RAGAM BUDAYA : HUBUNGAN BUDAYA MERARIQ DAN NYONGKOLAN PADA MASYARAKAT SASAK.



HUBUNGAN BUDAYA MERARIQ DAN NYONGKOLAN PADA MAYARAKAT SASAK

              Merariq secara sederhana bisa diartikan sebagai kawin lari. Dimana kaum pria Suku Sasak di Lombok membawa lari (mbait) gadis yang ia cintai. Seorang pria yang melarikan gadis yang ia cintai untuk dinikahi dianggap lebih ksatria dan terhormat daripada meminta atau melamar gadis tersebut kepada orang tuanya. Apalagi kalau ini dilakukan oleh kaum bangsawan
           Bagi masyarakat Sasak, melarikan anak gadis adalah bentuk penghormatan kepada kaum perempuan. Maksudnya, perempuan tidak bisa disamakan dengan benda atau barang yang bisa ditawar atau diminta begitu saja, tetapi harus didapat dengan penuh perjuangan dan pengorbanan.
Melarikan anak gadis juga tidak boleh sembarangan tapi harus mematuhi aturan dan adat istiadat setempat. Jika tidak, maka akan dikenakan sanksi atau denda sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku.

Bagaimana cara kaum laki-laki melaksanakan menculik gadis pujaannya?

        Kaum laki-laki muda (disebut Terune) membawa lari seorang gadis (disebut Dedare) ditemani beberapa orang temannya yang kemudian akan menjadi saksi. Terune tidak boleh membawa Dedare ke rumahnya sendiri, tetapi harus dititipkan ke rumah kerabatnya, temannya yang bisa dipercaya ataupun kepada keluarga lain. Terune tersebut harus melaporkan aksi penculikannya kepada keluarganya, tokoh masyarakat, tokot agama dan tokoh adat di kampungnya.Beda dengan para orang tua di daerah lainnya yang akan merasa sangat khawatir apabila anaknya (khususnya anak gadisnya) belum pulang hingga jam 22.00, maka orang tua di Lombok selalu berpikiran positif dan merasa tenang-tenang saja.

           Orang tua di Lombok yang anak gadisnya tidak pulang ke rumah dalam waktu 24 jam, maka sudah mafhum dan paham bahwa anak gadisnya akan "Merariq". Selanjutnya mereka melapor ke "Keliang" (kepala lingkungan) dan tokoh-tokoh lain di kampungnya. Proses ini disebut "Mesejati".Setelah 2-3 hari, maka pihak laki-laki (Terune) akan mengirimkan orang untuk mengabarkan kepada orang tua si gadis untuk membicarakan proses selanjutnya. Proses ini disebut "Nyelabar". Biasanya orang yang dikirim adalah Keliang, tokoh adat dan lainnya yang dipercaya oleh si Terune.Saat Nyelabar, orang tua sang Terune tidak boleh ikut. Disinilah terjadi saling tawar-menawar, yakni pihak Terune harus "Nyerah" membayar ganti rugi ke pihak orang tua si gadis sebagai bentuk pertanggungjawaban karena telah melarikan anak gadisnya. Nah, disini mungkin detak jantung siapapun akan berdegup kencang seperti bunyi genderang perang.
Jika orang tua si gadis setuju, maka tidak akan menjadi masalah. Tapi apabila orangtua si gadis tidak setuju sedangkan pihak Terune ngotot, maka orang tua si gadis akan memasang mahar yang tinggi untuk merestui anak gadisnya. Ini sebagai jaminan atau ikatan agar anak gadisnya diperlakukan dengan baik.


       Apabila telah terjadi kesepakatan barulah diadakan "Sorong Serah" atau "Aji Krama" dimana perwakilan pihak Terune dan Dedare bertemu langsung untuk membahas beberapa masalah seperti menentukan hari baik untuk pernikahan, proses akad nikah, "Nyongkolan dan lain sebagainya.Setelah semuanya mencapai kata mufakat barulah dilakukan akad nikah sesuai dengan kesepakatan. Setelah akad nikah dilaksanakan barulah dilakukan prosesi selanjutnya yaitu Nyongkolan.
       Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di LombokNusa Tenggara Barat. kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki.

Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan bibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang dibawanya memiliki aturan tertentu.Hingga saat ini Nyongkolan masih tetap dapat ditemui di Lombok, iring-iringan yang menarik masyarakat untuk menonton karena suara gendangnya ini biasanya diadakan selepas dzuhur di akhir pekan.




Komentar

  1. Luar biasa. sangat menambah wawasan.

    BalasHapus
  2. Informasinya sangat bermanfaat.😊

    BalasHapus
  3. Informasinya sangat bermanfaat.😊

    BalasHapus
  4. Menculik.. Perasaaan gk ad deh menculik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang saya pahami.Tapi sekiranya jika ada bahasa indonesia yang tepat,saya meminta untuk perbaikan boot saya.terimakasih

      Hapus
    2. Itu yang saya pahami.Tapi sekiranya jika ada bahasa indonesia yang tepat,saya meminta untuk perbaikan boot saya.terimakasih

      Hapus
  5. mungkin lebih tepatnya kalo dalam bahasa sasak di sebu "Memaling"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dijabarkan mbak apa beda memaling dan menculik.karna saya kekurangan referensi bahasa sasak.

      Hapus
  6. Sangat menarik. Terimakasih...

    BalasHapus
  7. Salah tafsiran jika mengatakan menculik. Karna yg sebenarnya adalah 'mbait' yg mana tidak sama dengan menculik. Mbait memiliki tata cara adat yg menjunjung hak asasi wanita. Sangat tidak etis jika mengatakan menculik. Terima kasih 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai orang awam dan hidup di luar tradisi tersebut saya meminta maaf yang sebesar_besarnya.oleh karenanya saya meminta referensi bahasa indonesia yang cocok untuk hal tersebut.terimakasih.

      Hapus
    2. Kata mbait gak bisa di artikan atau langsung di terjemahkan menjadi 'menculik' atau 'mencuri'. Begitu kata pak syahrul.
      Sama seperti 'mouse' dalam perangkat komputer, tidak bisa diartikan sebagai 'tikus'. Tapi ia tetap di sebut mouse. Semoga paham 😊

      Hapus
  8. Sangat bermanfaat. Kembangkan lagi 😂

    BalasHapus
  9. Pengetahuan baru, postingan yang sangat bermanfaat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer